Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Juwita & Samudera

Hari itu langit cerah Mega awan bergaun merah Duduk Juwita menghadap samudera Termangu aku pada punggungnya Sendu melagu di khayalku; Betapa aku iri pada samudera biru itu yang dapat menatapmu tanpa kenal henti Betapa aku iri pada desir angin itu yang membelai-belai rambutmu tanpa permisi Betapa aku iri pada pasir-pasir yang beterbangan itu yang dapat berselancar di kelopak, bulu matamu Betapa aku iri pada langit sore itu yang dapat larut dan terbenam di bening bola matamu Betapa aku iri pada sapuan ombak itu yang dapat mengecup jari-jemari kakimu Dan di antara nyanyian camar-camar yang melankolia; Aku bersaksi, bahwa tiada wanita yang langkah kakinya seteduh dirimu Aku bersaksi, bahwa tiada wanita yang dalam diamnya seanggun dirimu Aku bersaksi, bahwa tiada wanita yang dalam ucapnya sehalus sutera serupa ucapmu Aku bersaksi, bahwa tiada sorot mata yang mampu menundukkan pandangku serupa kedua matamu Padamu Juwita yang abadi sebagai tawanan rima Adakah kau menerka? Ku agungkan engkau d...

Sekali Lagi!

Gambar
Gelegak takdir serupa irama  Laju asa menjemput purnanya Menghadapi hari yang tak kenal damai dan aman Saling memukul dan bertinju lah di gelanggang zaman Ketika ia tiba; menghantam rusuk, punggung, dada dan kepala Sebentar menyerang, sebentar menangkis Segores sikut Sepenuh luka bertahanlah! Biar ia mengkanvas luka Merah, biru, hitam, ungu Bukan masalah! Nurani jangan pergi Bertinju lah sekali lagi!

Bunga Abadi

Gambar
Semerbak wangi bunga di kebun pertama Bersarang karang pada kelopaknya Gagak-gagak berdansa memekik suara Mata pedang cinta mengoyak dogma Pada pangkal daun terakhir di bulan juli Puisi-puisi ku berombak, menari-nari Melesat, menerjang, menembus langit kota Tegak pandang ku pada kisah Qais dan Laila dan kau dimana juwita? Berangkat waktu datang menjengah Pada ujung pandang ku lukis wajah Ku petik pena dari selimutnya Lalu mencatat ingatan mendalam bersama juwita Kebestarian manusia memecah waham Tapi tidak dengan cinta manusia yang mendalam Tak  di izinkan barang sebentar logikanya menjemput kesadaran Di antara cokelat, bunga, kembang api dan pingitan kebahagiaan Riang seorang diri berdansa ia di dalam  pesta bertajuk kegilaan 

Dengarlah

Gambar
  Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada keelokan kelopak mawar, maka harus kutanggung segala pedih durinya, Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada cemara yang mencakar-cakar langit, maka harus kutanggung segala terjang angin dan badainya. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada indah merpati di dalam sangkar, maka harus kutanggung segala kekang dalam sayapnya. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada sungai-sungai yang bercumbu di muara, maka harus kutanggung segala limbah dan sampahnya. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada kemegahan samudera, maka harus kutanggung segala batu terjang ombaknya. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada keperkasaan gunung-gunung, maka harus kutanggung segala marabahaya di kedalaman hutannya. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada anggun mega awan di langit sore, maka harus kutanggung segala kerelaan perginya ditelan cakrawala. Sekiranya aku telah menjatuhkan hati pada gemerlap cahaya bintang-bintang dan putih sinar rembulan, maka h...

Untuk Yang Terkasih

Bila yang pasang akan surut, Bila yang terbit akan tenggelam, Bila yang penuh akan terkuras habis, Bila yang tiba akan pergi, Bila yang menyala akan padam, Demi ufuk yang menelan malam, Demi purnama yang merenggut sinar bintang-bintang, Demi galaksi-galaksi yang tak berhenti berotasi; Sungguh, tak kuizinkan barang sebentar wajahmu memudar dalam pandangku

Temaram

Gambar
Pendar-pendar jingga di kaki langit Hening petang asuhan waktu Tarian angin lukisan awan Hanyut lelaki menuju peraduan Sentimental arusnya, membungkuk ia dalam penghayatan Temaram tiba di dada, di kepala Gelegak impian dan batu-tarungnya,  perlawanan dan penyerahan situai hidupnya menjadi cakrawala Lelaki menjelma manusia kata Dipahaminya bahasa agin, matahari, ufuk, keheningan, waktu dan semesta Halus merangkul, melipat ruang dan waktu Lelaki menyanyikan lagu bisu Di kejarnya bayang-bayang, ditangkapnya cahaya Lelaki tenggelam dalam telaga air mata

Membunuh Tuhan

Drama-drama, topeng-topeng, menghindari wajahnya sendiri. Kebohongan-kebohoongan ilutif, kenaifan, menghakimi nuraninya sendiri. Tuhan dibunuh dalam setiap kesenangan, dalam kebuasan hasrat dan kedegilan, dan Tuhan dihidupkannya kembali pada tembok ratapan; kegelisahan, kesusahan, penderitaan-penderitaan, ketidakberdayaan dalam kedok-kedok doa; mantra-mantra serupa kekuatan, eskapisme dan ritus-ritus yang menghindar dari kenyataan. hidup dalam keputusasaan, berlaga dungu dalam kepanikan, keloyoan hidup dalam kemalasan, menampilkan kelemahan dalam heroisme pasif, Tuhan abadi dalam kekalahan manusia. 

Motto

Di rumahku, aku tinggal ber-dua Hanya aku dan azasku Aku tak pernah percaya pada slogan-slogan Betgitupun tak pernah meniru suatu pribadi   Aku tak ingin tak menertawakan diri sendiri; Yang berlaku dan berfikir bukan atas kehendak dan kemauan diri sendiri, Serupa tak pernah percaya pada diriku sendiri.   Aku tak pernah terikat oleh warna apapun Dan aku tak ingin lagi mengenal warna apapun selain warna yang tak pernah kebanyakan oraang kenal (bening) Aku selalu ingin larut dalam kebeningan-kejernihan, Yang padanya tak melekat postulat-postulat   Aku tak ingin seragam, Dipaksa seragam, Pun, memaksa orang lain untuk seragam  

Balada Hutan

Nyanyian sunyi hutan bisu Hewan-tumbuhan merapal doa, mengharap hidup di telaga kokytos Pada gergaji Pada buldoser Pada manusia Olympus bergemuruh Pertikaian Thanatos dan Gaia tak terelakkan Api emas pendar menyala di jantung hutan Kabut tebal panas beterbangan Serupa kapas, serupa naas Artemis dipukau keheranan Harimau hilang lorengnya, Badak hilang culanya, Babi rusa hilang taringnya, Gajah hilang gadingnya Rusa hilang tanduknya, Dan merak, hilang anggunnya Pertikaian Dewa-Dewi belum berhenti Sementara belantara telah menjadi kota Manusia baru diwariskan cerita; Tentang syair-syair Bekantan, Maleo, Cendrawasih, Keperkasaan Elang Jawa juga harimau sumatera Keelokan Edelweiss juga Rafflesia Pada ensiklopedia, pengetahuan manusia berakar Terpental jauh dari pengetahuan asalnya Dan ingatan manusia hanya sebatas cerita, cerita, dan cerita Bahwa Maha karya Tuhan nan indah itu pernah ada!

Untuk Sebuah Nama

Untuk sebuah nama, Sekian purnama saya menantikan yang aksidental dalam irama takdir Saya melihat samudera di dalam diri anda Api biru yang menyala-yala di kedua bola mata anda Di antara kebodohan yang serba tergesa-gesa saya memendam rasa yang amat hebat pada anda Rasa yang tak berwajah kata namun padat harapan Rasa yang diliputi malu, kadang cemburu tak bertuan Rasa rindu kadang tiba secepat cahaya, kadang seperti gemuruh saat terang cuaca dan terkadang seperti bom waktu yang harus saya hadapi bagaimanapun aralnya Menghalau kedatangannya adalah sama halnya menepis anugerah, semacam mustahil, mecegah terbitnya fajar pagi Rasa ini sederhana namun sentimental, sukar sekali orang dapat mengerti,lebih-lebih pahami Terkadang meletup-letup seperti kembang api, kadang pula serupa nyanyian-nyanyian orang mati Selama rasa yang teramat hebat ini tak menjelma ungkapan-ungkapan, selama itu pula ia tak mengganggu, berlalu-lalang, bahkan menyentuh pikiran anda   Mata...

find a way!

Sebagian orang ada yang hidup sengsara, diliputi kesedihan berhijab kebodohan Sebagian lagi, pandai, setia dan tulus   pada janji. Mereka lebih dekat pada kemenangan Mereka yang mencintai duniawi ialah yang menakutkan Mereka yang tidak peduli ialah yang terasingkan, namun dalam lingkar ketenangan Bagiku teramat membingungkan Duniawi melelahkan, terasingpun memilukan Dimana ketengangan? Dimana kemenangan? Kekalahan tidak selalu disertai penyerahan Ini soal waktu dan bagaimana merawat kehidupan   Jember, 02/09/2020

Sepasang sahabat

  Sepasang sahabat tidur dengan mata terbuka, Tangan, kaki, mata dan hati terluka. “ada apa?” tanya salah satu dari keduanya. “Entah,” igau ia pada sahabatnya. “Mungkin lelah, Mungkin kalah.”

Temukan Jalan

makin banyak anggota makin sedikit karya makin banyak bicara makin banyak kehilangan makin banyak aturan makin banyak pembangkangan makin banyak ketakutan makin sedikit perlawan   makin sedikit gagasan makin banyak kegagapan makin sedikit keragu-raguan makin banyak kemunafikan   mau jalan keluar? walk out!

Ibu Kartini

Peradaban silih berganti Anak zaman pernah lahir dari rahim ibu pertiwi Menanggalkan kisah mengukir cerita 21 April torehkan sejarah Kartini hadir gemparkan Nusantara Meredam gelisah tabiat hidup  kaum wanita  Peradaban baru kini telah terbit Menyongsong hari, membuka pikiran yang sempit Memperjuangkan emansipasi Hingga wacana penghapusan budaya patriarki Kartini adalah pelita sejati Dibukanya pintu mimpi para pemudi Penderitaan Tidak lagi menjadi sebab Mencoba sadar agar hidup wanita lebih bermartabat Hari ini adalah serpihan masa lalu Bahwa perjuangan jangan cepat berlalu  "Torehkanlah sejarah yang baru" Pesan kartini pada para pembaharu Menyulut semangat yang membiru Mamacu hati yang menggebu-gebu Senin, 20 April 2020

Belajar Jadi Sufi

Jika engkau ingin belajar menjadi sufi Belajarlah murah hati, seperti  Ibrahim As yang tak terikat duniawi Belajarlah Ridha, seperti Ismail As yang tak pernah menentang kehendak Ilahi Rabbi Belajarlah sabar, seperti Ya'kub As yang senantiasa menerima ketentuan dengan berlapang hati Belajarlah simbol-simbol, dari Zakaria As yang memberi hikmah pada hati yang mati Belajarlah uzlah, seperti Yahya As yang tak pernah henti bermuhasabah Belajarlah sederhana, seperti Musa As anak angkat Fir'aun pada setiap pakaian yang dikenakannya Belajarlah mengembara, layaknya Isa As yang senantiasa menambah wawasan dimanapun ia singgah Belajarlah rendah hati seperti Muhammad S.A.W yang senantiasa merendah juga menghormati Tuhan tunjukan jalan bagi kami Jalan yang lurus juga Engkau ridhai

Nyawiji

Siapa yang lebih mengenali-Nya? Yang mengamati tak lebih mengetahui daripada yang mengerti Semata-mata hanya ingin mengenali Ia Dzat yang sejati Bukanlah Ia Allah yang sesuai kepentingan hamba-Nya Menjalankan perintah adalah cara mengenali-Nya Tanpa keraguan, namun penuh keyakinan Mengenali diri sendiri adalah kuncinya Tidak pernah merasa suci atas banyaknya amal perbuatan Maka terimalah   Wahdatul   Wujud sebagai puncaknya

Jalan Menuju Tuhan

Aku belum punya cukup ilmu Hanya prasangka yang bersarang dalam kalbu Berprasangka baik adalah caraku  Menatap langit dan termangu   Aku belum punya cukup keyakinan Hanya mencoba khusyu' pada setiap permohonan  Aku persembahkan do'aku yang kering Munafiq dan penuh keraguan agung Aku tahu Engkau Maha bijaksana Tetap menerima meski aku sering berdusta Aku tahu Engkaulah sang pemilik Rahmat Tetap bermurah hati meski sering kupermainkan taubat Engkau selalu mengingatkanku untuk kembali Meski aku sering ingkar janji Lagi dan lagi Engkau tunjukan jalan Agar tak tersesat aku dalam kehidupan Terimakasih Tuhan atas segala peringatan Jalan yang Engkau beri semoga dapat aku tamatkan

Untuk Idealisme Yang Melemah

Generasi muda… Masih ingatkah engkau dengan catatan sebuah cerita lama,? tentang semangat merah membara yang melawan berbagai macam bentuk penindasan terhadap rakyat jelata. Generasi muda… Engkau ada dimana,? ketika hati rakyatmu yang lemah menjerit dengan penuh asa akibat kerakusan para penerka. Apakah suramu sudah serak, hingga tak mampu lagi berteriak,? apakah suaramu sudah usang tergerus zaman?. Idealismemu bukan komoditas, jangan samapai terkikis kemewahan karena keidealisanmu adalah harta terakhir yang engkau miliki. Akankah engkau mengulang cerita lama,? yang mana suaramu dapat menggetarkan istana penguasa, bahkan membuat kekuasaan yang dzolim menemukan ajalnya, juga coretan tintamu yang menjadi senjata tuk melawan kemunafikan yang membuat rakyat sengsara. Generasi muda… Datanglah kemari, kepalkan tanganmu kembali. Kami selalu merindukan mata merah yang melotot, tekat yang menyala-nyala yang menghantam penindasan, menuju masyarakat yang penuh kebahagiaan, kedamaian, juga kesejah...

Apakah Aku Manusia?

Manusia…. Kau, aku, mereka, kita semua telah mengalami perubahan dari kera menjadi manusia, tetapi masih banyak dari kita yang masih menjadi seekor kera. Dulu kita adalah kera, dan bahkan sekarangpun manusia lebih kera dari kera manapun. Lihatlah yang paling bijaksana dari manusia hanyalah kekacauan dan campuran antara tanaman dan bayang-bayang. Apakah Tuhan menyuruh kita menjadi tanaman atau bayangan?, tidak! kita adalah manusia, lebih dari tanaman bahkan bayangan. Sedang kalian tau, manusia itu sesuatu yang harus dilampaui. Apa yang telah kalian lakukan untuk melampaui manusia?. Sampai sekarang semua mahluk telah menciptakan sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Apakah kalian memilih menjadi arus balik yang melawan arus pasang dan lebih suka kembali menjadi binatang daripada melampaui manusia?. Banyaklah belajar tentang hidup yang benar-benar hidup. Lampauilah diri kalian, tanamkanlah keberanian sebagai dasar kehidupan. Lihatlah bagaimana selama ini, pengetahuan didasarkan pada ras...

PERINGATAN

Kala gelisah diambang pilu Anjing-anjing liar mengulurkan lidahnya Gonggongannya terdengar dari balik gedung yang berlapis karpet di dinding Meredam suara yang coba mencabik tameng keamanan Sebab keingintahuan tak boleh temukan jalan Apa sebab hari ini?   Absurditas makin menjadi-jadi Apalagi yang harus dilakukan? Gonggongan anjing tak lagi di hiraukan Hari ini kutulis sajak PERINGATAN!   Aku tak melihat ada jalan untuk sebuah ungkapan Di meja-meja itu tak lagi disajikan perdebatan Tekanan pada perkataan selalu berbuntut pengiyaan Desas desus orang berbisik di keheningan Coba pecahkan rumus pengamanan kekuasaan Aku ingin menyulut api pada tumpukan jerami Agar asap yang menyesakkan merangsak masuk   Berbondong-bondong kebawah meja monopoli kekuasaan Jangan lagi berdiam untuk cukup gelisah Menelan ludah karena tak mampu berucap dan berkata-kata Perjuangan tak boleh temukan tempat peristirahatan Ia harus berdesakan dengan aroma hening dalam keramaian Jangan lagi cegal pemiki...