Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Kelana Waktu

Burung camar memekik suara, terbang menghala ke sarang-sarangnya, berbanjar mengharung angin senja. Pada kaki jingga cakrawala, sangkala membentangkan sayapnya   Di bawah senjakala merah, berhala-berhala kehilangan kepalanya yang kosong. Kilat cahaya merekah menjeda detak jantung, berkeringat, menggigil menguliti helai napas. Menelanjangi luka, menziarahi bara masa muda.   Horizon kesadaran membeku, menerjang batas akal parsial, Membuka lorong waktu yang berpintu-pintu, tersibaklah tabir masa cibiran, menyongsong terang cuaca makian, dan manusia menyebut lupa sebagai kemajuan.   Zaman bertumbuh hilang terangnya, pendar pandang tercerabut dari pangkal kebenaran. Laju percepatan melumat nurani, budaya baru terbit tanpa zirah budi pekerti. Kita terlempar pada zaman kelabu.    

Martabat

Martabat Orang bisa mengambil hartaku. Orang bisa mengambil rumahku. Bahkan orang bisa mengambil namaku. Tetapi, selama aku tidak menyerahkan nuraniku, tidak ada yang berhasil mengalahkanku.   AKU   Aku tidak pernah kalah oleh orang lain. Aku kalah setiap kali ingin menjadi orang lain.   Kalah Aku pernah mengalahkan banyak hal di luar diriku. Aneh. Malamnya aku tetap tidak bisa tidur.   Hari lain, aku mengalahkan keinginanku sendiri. Untuk pertama kalinya, tidurku nyenyak.   Orang Asing Aku hafal wajah banyak orang. Aku tahu siapa yang jujur. Siapa yang pemarah. Siapa yang suka berpura-pura. Anehnya, aku lupa melihat diriku sendiri.   Menjadi Manusia Kita diajari cara menang. Sedikit sekali yang mengajari cara menjadi manusia. Padahal, menang belum tentu benar.   Benar sering kali kalah. Tetapi yang benar tidak pernah kalah di hadapan nuraninya sendiri.   Selesai   Hari ini tidak ada yang berubah. Matahari tetap terbit...