Demi Waktu

Burung camar memekik suara,

terbang menghala ke sarang-sarangnya,

berbanjar mengharung angin senja.

Pada kaki jingga cakrawala,

sangkala membentangkan sayapnya

 

Di bawah senjakala merah,

berhala-berhala kehilangan kepalanya yang kosong.

Kilat cahaya merekah menjeda detak jantung,

berkeringat, menggigil menguliti helai napas.

Menelanjangi luka,

menziarahi bara masa muda.

 

Horizon kesadaran membeku,

menerjang batas akal parsial,

Membuka lorong waktu yang berpintu-pintu,

tersibaklah tabir masa cibiran,

menyongsong terang cuaca makian,

dan manusia menyebut lupa sebagai kemajuan.

 

Zaman bertumbuh hilang terangnya,

pendar pandang tercerabut dari pangkal kebenaran.

Laju percepatan melumat nurani,

budaya baru terbit tanpa zirah budi pekerti.

Kita terlempar pada zaman kelabu.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Pulang! Bersabarlah

Atas Nama Cinta, Kita Saudara Sedarah

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian