Atas Nama Cinta, Kita Saudara Sedarah

 Aku jengah menghitung lonceng kematian

Sedang aku takut

Pada batu nisan

Pada tabur bunga

Pada pemakaman di perut bumi

 

Cahaya terbit-tenggelam pada cakrawala jiwaku

Bagaimana kematian yang laik?

Yang tak membonceng iblis berambut api

 

Bahasa Tuhan lebih terang dari matahari

Langit telah menuliskan puisi

Bintang-gemintang dan Bima Sakti menjadi isi

Maut mengintai di detak nadi

Menjadi alas kaki manusia yang menjauh berlari

 

Maut bukanlah lelucon lagi

Matanya menyala-berapi

Di bawah langit merah ia benar marah

Dipakainya baju zirah

Diacungkannya cambuk di atas pedati

 

Kemanapun anak-anak adam bersembunyi

Mata Tuhan selalu awas mengamati

Berbisik Ia pada ruh dalam segumpal tanah

“Ku berikan izin hidup atas jiwamu, dan maut sebagai teman dan pendampingmu yang setia”

 

Atas nama cinta

Ku simpan sabit tajam di balik punggungmu

Jiwa-jiwa terbang bersayap

Maut dapat kapan saja memangkas sayap-sayapnya

Maka ketahuilah

Kasih dan maut adalah saudara sedarah

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Pulang! Bersabarlah

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian

Abadilah kata-kata