Aku Pulang! Bersabarlah
Kala berjumpa,
tak tanggal ingatanku pada hal indah di dalamnya;
kita bercinta
dengan menuangkan cahaya pada sepasang mata satu sama lain.
waktu telah lama mendidikku
melalui kerja peristiwa yang berulang
dan kehilangan yang tak bisa ditawar.
namun tidak dengan cahaya
yang memancar dari sorot mata itu.
kau tahu,
perasaan ini tak pernah benar-benar lunak.
ku ingin kau pun tahu,
bahkan tak seorang pun benar-benar dapat
mengerti
berapa mahar duka yang harus dibayar
untuk menanggung rindu yang gelisah seorang diri.
di bentang jarak kota,
tempatku berdiri menghitung sunyi,
dan kota yang jauh tempatmu bersembunyi,
takdir telah membentangkan sayap indahnya,
kau dan aku sekali lagi dipaksa
mengerti.
kau tahu,
yang terpenting dari semua ini
ialah kemampuan bertahan.
barangkali kau diuji oleh letihnya menunggu,
menakar sabar yang terus dipasung jarak dan kepastian,
menggantung gamang pada cakrawala harapan.
Aku tahu,
batu tarung seorang penjelajah
adalah mencintai api keberanian.
begitu napas alam memompa
dan membentuk ritme detak jantungmu,
hari-hari berikutnya,
keberanian itu pula
yang akan menguji tapal batas sabarmu.
suatu hari kelak,
aku ingin mengatakan hal indah tentang matamu;
bahkan untuk melukiskannya,
langit terlalu jauh,
laut terlalu dalam,
tetapi matamu memiliki keduanya.
aku tidak cakap,
tidak pula memiliki banyak pilihan kata,
namun satu hal ini perlu kau dengar:
kau cantik.
kelak, jika kau bangkit,
lolos dari pasung jarak dan letihnya menunggu,
telah purna pula tugas kesabaran
di hadapan altar kepastian waktu,
akan kususun kembali
serbuk waktu yang pernah tercerai,
hingga kau dan aku dapat pulang
pada satu nama yang sama:
sebagai kita.
Komentar