Yang Harum Tanpa Nama
Hari baru terbit melepas laju cahaya di batas cakrawala. Di bawah hampar langit fajar, gumpal awan tak memecah cahaya. Sinarnya mengkanvas kuning keemasan memancar ke segala arah. Lembut cahayanya meresap, menembus jantung taman, menyibak arus awan, menembus celah ranting dan dedaunan. Langit yang jingga, anggun dan menawan pada balutan warnanya Wahai kelopak mawar yang jelita, tengadahlah. Hadapkan wajahmu kepadaku jika kau sungguh berani mencinta. Lihatlah kumbang-kumbang yang terbang menuju cahaya. Mereka tidak mencari bunga, tidak mencari taman, ia mencari Sang Pemilik Keharuman. Wahai mawar yang jelita, berapa lama lagi kau hendak menghitung sayap yang melintas? Berapa lama lagi kau hendak menakar cinta dari siapa yang datang dan siapa yang berpaling? Kumbang tak pernah menolak mawar. Cahaya pun tak pernah merebutnya. Di taman semesta, setiap makhluk sedang ditarik oleh rahasianya masing-masing. Wahai mawar yang salah sangka, mekarlah. Jangan karena ada yang datang....