Postingan

BUNGA-BUNGA API

Sengit genderang perang beradoe Saling pantjang pandji di gardoe-gardoe Tampar, sikut, terdjang, ta’ berkesedoedahan Keganasan melompoeh kesadaran Keserakahan memberangoes kedamaian Manisnja kekoeasaan menjerat lidah-berdjoeloeran Kawan, ini hanja oeroesan makan! Ta’ perloe menjilat-melata agar berkecokoepan Tangan, kaki, pipi, sekalian toeboeh kita boleh tjatjat, relakan Asal ta’ tjatjat noerani, ta’ pintjang berpihak Biar ta’ menang, asal benar Biar pelan bersemai, asal gerak menjalar Kalian kawankoe, jang sengadja menjalakan api di keboen boenga biroekoe Terimalah kelahiran sang boenga-boenga api Dari rahim air mata dan kasih Jang hidoep tegak ta’ roendoek-rebah-kalah Inilah kelahiran jang di bonjeng loeka-derita Inilah soeara-bahasa jang memikoel kekalahan demi kekalahan Inilah kelahiran boenga-boenga api Terimalah dan hadapi Djember, 13/09/26

81 Tahun adalah Angka

Cahaya bintang-gemintang berpendaran di atap langit bangsa bohlam menyala remang  menghias rumah-rumah diantara lembah dan tebing  Malam yang menggigil jatuh tersungkur di muka tungku-tungku sesak, pengap mencekik tenggorokan banjir pada kedua bola mata orang perkebunan menjerat kehangatan sementara hidup disini menjeda pertanyaan apa arti 81 tahun kemerdekaan? Diantara kepung beratus-ratus hektar lahan perkebunan diselang-seling nasib tak berkepastian poster-poster pincang mewarta kehidupan melumat nurani, menyayat luka   Malam makin larut panas tungku  lenyap-surut kudengar langkah geletar berirama di antara desah angin pancaroba seorang demi seorang jatuh diatas terpal kusut sebagian tersungkur patah-patah bertindih diantara perabotan rumahnya kulihat kemarau pada telapak-telapak kakinya tandus mengakar mencatat langkah mereka Langit merintik renai-renai suasana mengkidung sunyi lembab embun berpadu napas orang-orang perkebunan Pukul dua dini hari asap mengepul me...

Kelana Waktu

Burung camar memekik suara, terbang menghala ke sarang-sarangnya, berbanjar mengharung angin senja. Pada kaki jingga cakrawala, sangkala membentangkan sayapnya   Di bawah senjakala merah, berhala-berhala kehilangan kepalanya yang kosong. Kilat cahaya merekah menjeda detak jantung, berkeringat, menggigil menguliti helai napas. Menelanjangi luka, menziarahi bara masa muda.   Horizon kesadaran membeku, menerjang batas akal parsial, Membuka lorong waktu yang berpintu-pintu, tersibaklah tabir masa cibiran, menyongsong terang cuaca makian, dan manusia menyebut lupa sebagai kemajuan.   Zaman bertumbuh hilang terangnya, pendar pandang tercerabut dari pangkal kebenaran. Laju percepatan melumat nurani, budaya baru terbit tanpa zirah budi pekerti. Kita terlempar pada zaman kelabu.    

Martabat

Martabat Orang bisa mengambil hartaku. Orang bisa mengambil rumahku. Bahkan orang bisa mengambil namaku. Tetapi, selama aku tidak menyerahkan nuraniku, tidak ada yang berhasil mengalahkanku.   AKU   Aku tidak pernah kalah oleh orang lain. Aku kalah setiap kali ingin menjadi orang lain.   Kalah Aku pernah mengalahkan banyak hal di luar diriku. Aneh. Malamnya aku tetap tidak bisa tidur.   Hari lain, aku mengalahkan keinginanku sendiri. Untuk pertama kalinya, tidurku nyenyak.   Orang Asing Aku hafal wajah banyak orang. Aku tahu siapa yang jujur. Siapa yang pemarah. Siapa yang suka berpura-pura. Anehnya, aku lupa melihat diriku sendiri.   Menjadi Manusia Kita diajari cara menang. Sedikit sekali yang mengajari cara menjadi manusia. Padahal, menang belum tentu benar.   Benar sering kali kalah. Tetapi yang benar tidak pernah kalah di hadapan nuraninya sendiri.   Selesai   Hari ini tidak ada yang berubah. Matahari tetap terbit...

Suluk Purnama Sidhi

Tuhanku telah membentuk kita dari rahasia ketiadaan Tempat terbit-tenggelam gejolak batinku adalah kuasa-Nya Langit Muharram melantun kidung kabingahan Harum mangir bercampur wangi dupa-setanggi memadati sukma sunyi Purnama sidhi menggantung di atas langit kota Merekahlah bunga-bunga doa Mekarlah kelopak-kelopak harapan Semerbak takjub tanpa lafal Keridlaan hidup adalah wujud tasbih cinta kita yang mulia Gusti, luruhkan jiwa dalam sumeleh yang suci

Atas Nama Cinta, Kita Saudara Sedarah

Aku jengah menghitung lonceng kematian Sedang aku takut Pada batu nisan Pada tabur bunga Pada pemakaman di perut bumi   Cahaya terbit-tenggelam pada cakrawala jiwaku Bagaimana kematian yang laik? Yang tak membonceng iblis berambut api   Bahasa Tuhan lebih terang dari matahari Langit telah menuliskan puisi Bintang-gemintang dan Bima Sakti menjadi isi Maut mengintai di detak nadi Menjadi alas kaki manusia yang menjauh berlari   Maut bukanlah lelucon lagi Matanya menyala-berapi Di bawah langit merah ia benar marah Dipakainya baju zirah Diacungkannya cambuk di atas pedati   Kemanapun anak-anak adam bersembunyi Mata Tuhan selalu awas mengamati Berbisik Ia pada ruh dalam segumpal tanah “Ku berikan izin hidup atas jiwamu, dan maut sebagai teman dan pendampingmu yang setia”   Atas nama cinta Ku simpan sabit tajam di balik punggungmu Jiwa-jiwa terbang bersayap Maut dapat kapan saja memangkas sayap-sayapnya Mak...

Di Atas Tanah, Di Bawah Langit yang Luka

Waktu dan segala yang dikandungnya Adalah pemahat agung Sekali waktu keadaan bangsa ini pernah kacau Dan sekarang semakin kacau lagi   Kekacauan tak pernah benar-benar pergi Kekacauan hanya berganti wajah Berganti nama Berganti orang-orang yang tenggelam dalam pusaran kuasa   Asaku tak pernah sekalipun akan berubah Seperti purnama Sepenuh cahaya pada garis edarnya   Nasib hidup manusia di atas negeri yang luka seperti cuaca Pagi dijanjikan cerah Siang di panggang resah Dan petang lelap dalam kandungan amarah   Batu tarung orang-orang kalah adalah nuraninya Di terjang harga pasar serupa air pasang Mati menelan keringat harapan   Biarlah langit kacau. Biarlah badai mengamuk. Di bawah langit yang luka Bulan tetap bulan Purnama tetaplah purnama.   Dan aku Tetap tegak diatas tanah negeriku Bersama asa bebalut mimpi Esok Aku menjelma fajar