Atas Nama Cinta, Kita Saudara Sedarah
Aku jengah menghitung lonceng kematian Sedang aku takut Pada batu nisan Pada tabur bunga Pada pemakaman di perut bumi Cahaya terbit-tenggelam pada cakrawala jiwaku Bagaimana kematian yang laik? Yang tak membonceng iblis berambut api Bahasa Tuhan lebih terang dari matahari Langit telah menuliskan puisi Bintang-gemintang dan Bima Sakti menjadi isi Maut mengintai di detak nadi Menjadi alas kaki manusia yang menjauh berlari Maut bukanlah lelucon lagi Matanya menyala-berapi Di bawah langit merah ia benar marah Dipakainya baju zirah Diacungkannya cambuk di atas pedati Kemanapun anak-anak adam bersembunyi Mata Tuhan selalu awas mengamati Berbisik Ia pada ruh dalam segumpal tanah “Ku berikan izin hidup atas jiwamu, dan maut sebagai teman dan pendampingmu yang setia” Atas nama cinta Ku simpan sabit tajam di balik punggungmu Jiwa-jiwa terbang bersayap Maut dapat kapan saja memangkas sayap-sayapnya...