Postingan

Abadilah kata-kata

 Diantara kegamangan yang dengan atau yang tanpa pengharapan Aku tak ingin mendukakan nasib sebintikpun Bila sempat kau intip barang sejenak; Jika tidak dalam sadarmu, munkin dalam guratan mimpimu Ia maksudku yang paling halus, yang wajahnya tanpa dihias dan tanpa tedeng aling-aling itu Sengaja ku antar ia menuju peraduannya Terbaring ia di altar arsy menunggu tiba keridhoanmu Jika pula sempat kau bertemu dengannya, izinkanlah ia mengetuk kedalaman batinmu sesekali saja Sejenak, Biar ia berbicara padamu dengan bahasa yang lapuk dipasung waktu Biar ia menerjang batas dalam keterbatasan kata-kata  Kau izinkan atau tidak ia menetap dan semerbak di pangkal jantungmu, Tentu itu bukan urusanku, itu semua ada pada kehendak dirimu Dan bahkan jika belumlah juga kau jenguk ia dalam ketersediaan umurku Biar ia simpan segala bahasa dalam telaga pesakitannya Biarkan ia pulas dalam keabadiannya Dan untukmu, sekalian kebahagiaanmu; semoga Tuhan memberkatimu dengan cinta...

Merataplah

Apa yang membawa anak manusia pada penyangkalan?   menerka yang wujud dengan menaruh cinta pada yang bentuk. Apa yang membawa anak manusia pada keterombang-ambingan maksud?  menerka yang terang hanya telanjang dalam bentuk inderawi. Apa yang membawa anak manusia pada kelingseman ?  menaruh pandang hanya pada urusan kalah-menang, dan kalau perlu; harus menang! Bukannya pada pandangan yang jujur tentang kebenaran Kegamangan nasib anak manusia membentur altar takdir, meraba bentuk asli "manusia sejati" Apa yang "perlu" hinggap dalam kepintaran manusia agar tak sombong pada kebodohan dalam memahat dirinya menjadi manusia sejati? Maka merataplah ke kedalaman dirimu; sebab tak akan pernah kau jumpai selama hidupmu, wajah aturan dan bentuk spektrum sosial yang melarangan anak manisia untuk menangis, mengeluh bahkan merasa kalah, sekalipun pada dirinya sendiri. Sebab itu pula tak pernah jatuh larang terhadap anak manusia untuk berbicara dan berdialog; dengan angin, ranting...

Dengarkan!

Aku ingin berbicara padamu dengan hati telanjang Dengan kata-kata yang tanpa di hias Mataku hendak berbicara lebih lantang tanpa suara Kau diam, aku mulai berbicara Kau tatap mataku, kau membaca sorotnya Setiap kedip dan tarikan napas adalah jeda Aku diam, kau menyelami samudera pikirku lebih dalam Kau tahu, batin ini samudera hidup penuh badai Kau pun akan mengerti, gulungan ombak akan menghempaskan siapa saja yang mencoba melawannya bak burung penyelam, kau tenggelam dalam amuk gelombang Jangan coba buka mulutmu sesekali, kau bukan seekor ikan Ini bukan tentang jawaban, ini tentang mengerti Kala awan tersibak menari-narilah di kedalaman samudera Banyak-banyaklah belajar pada apa yang ada di balik kedalaman Keheningan selalu menjadi ruang bagi sesuatu yang lebih besar Keheningan adalah lumbung dari bahasa paling jujur Suara-suara itu nyata Suara-suara itu ada Bila tak mampu kau menahan jeritnya Pastilah pecah berkeping gendang telingamu Jemputklah tiap-tiap api yang menyala di dasarny...

Mulai-lah

Pancaroba bertiup membisik gamang Mengurai hidup nasib anak manusia  Selalu saja, isi kepala tak lebih besar dari mulutnya Menyalahkan apapun, tanpa pernah mengarahkan telunjuk kedalam dirinya sendiri Busa di mulut, kabut di pandang Menipu nuraninya sendiri Badai hidup, balada jiwa Menyibak ingatan, menyulam kedegilan, Menjahit luka, menjelma tanda peringatan, Katanya, Berhentilah menyalahkan angin, Belajarlah menari dalam badai

Aku Gelisah!

Jika gelapnya lorong-lorong jalan yang Engkau suguhkan adalah bahasa cinta-Mu yang paling sukar kami mengerti, maka dengan ridha-Mu, tuntunlah kami menuju cahaya di ujung lorong-lorong itu. Jika marabahaya dan ancaman-ancaman ketidakpastian hidup adalah tempayan-Mu yang berisi keberanian, tetapi sering kami salah pahami, maka luapkan, tumpahkan, dan bajirilah akal serta hati kami yang gersang akan kesadaran dan pengertian terhadap karunia-Mu. Jika hadirnya derita-derita dalam hidup kami adalah bahasa rindu-Mu yang masih tandus dari pengertian kami, hamba-Mu, maka tarik dan seretlah kami, bahkan ceburkan kami, ke telaga hidayah-Mu. Dan jika kehancuran yang karib dengan harapan-harapan kami adalah tinju-Mu terhadap keangkuhan dan kesombongan atas pengetahuan yang selalu kami bangga-banggakan, maka luluh-lantakkanlah dengan kebesaran nama-Mu, agar lapang hati dan pikiran kami menerima setiap roda takdir-Mu. Ya Tuhan kami, betapa hinanya kami yang tak mampu menyadari kebodohan diri sendiri...

Jangan Mati Kawan

Kawan, hidup di pusaran abad ke-21 ini seakan membawa kita pada ruang batin yang penuh dengan pertentangan; Di satu sisi, kita dihadapkan pada kesempatan-kesempatan yang mungkin tak pernah di bayangkan sebelumnya; di sisi lain, ada arus deras yang mencoba meruntuhkan nilai-nilai dasar yang kita genggam erat. Batu terjang itu, yang datang tanpa jengah, tidak hanya mengetuk, tetapi seperti hendak merubuhkan fondasi yang telah kita bangun nilai-nilai yang kita sepakati sebagai hal yang tak boleh dikorbankan, termasuk prinsip "tak menghalalkan segala cara, hanya untuk hidup!" Badai modernitas ini menghantam kita dari segala arah. Di setiap waktu, kita dipaksa berhadapan dengan percepatan yang seringkali tidak manusiawi, seolah ada perlombaan untuk siapa yang paling cepat beradaptasi, siapa yang paling cepat menghasilkan, siapa yang paling cepat mencapai “kesuksesan” menurut standar yang semakin kabur. Pada setiap perjumpaan dan pertukaran kabar kabar; kita berulang kali menyaks...

Peradaban dan Brutalitas yang Tersembunyi: Sebuah Paradoks Modernitas

Peradaban, dengan segala gemerlap kemajuan yang menyelubunginya, bersama struktur pemerintahan yang hierarkis dan otoritas yang mapan, pada dasarnya hanyalah sebuah lapisan tipis yang menutupi insting dasar manusia yang sesungguhnya brutal dan penuh hasrat untuk mendominasi. Di balik klaim rasionalitas dan kemajuan, brutalitas manusia tetap hidup, hanya menemukan bentuk yang lebih halus dan tersembunyi. Thomas Hobbes, dalam karyanya  Leviathan  (1651), menggambarkan kondisi manusia dalam keadaan alami sebagai sebuah peperangan tanpa henti, B ellum Omnium Contra Omnes , atau “perang semua melawan semua.” Di sisi lain, Sigmund Freud, dalam  Civilization and its Discontents  (1930), memperluas pandangan ini dengan mengungkapkan bahwa konflik batin manusia antara insting destruktif ( Thanatos ) dan dorongan untuk hidup ( Eros ) adalah sumber penderitaan dalam peradaban modern. Pemikiran-pemikiran ini memberikan landasan filosofis bahwa meskipun peradaban telah dibangun, ...