Kiamat Diam-Diam
Malam mengunyah lampu jalan. Kota sesak asap dan kesepian. Kulihat langit tergunting menjadi potongan-potongan. Bintang-bintang tercecer di jalanan. Jam dinding batuk. Pukul dua lewat sedikit kehilangan. Di luar, hujan menggantung tubuhnya di kabel-kabel listrik. Mimpiku bocor sampai ke pelataran. Jam dinding batuk lagi. Waktu retak memantulkan wajahku jadi tiga bagian: yang satu ingin pulang, yang satu ingin hilang, yang satunya lagi ditelan cinta setengah jalan. Ia tidak marah, ia tak mau kalah, itu yang paling mengerikan. Layar kecil bercahaya. Nyala, berbicara tanpa suara. Iklan sabun lewat. Iklan surga lewat. Iklan pemerintah pun lewat. Muak. Seekor tikus melintas di bawah meja, membawa potongan roti dan sedikit harga diri manusia. Orang-orang berbicara tentang cinta dengan mulut penuh beling. Mereka memandangi satu sama lain sambil diam-diam menghitung jalan keluar. Hujan terus jatuh, seperti mulut ibuku yang tak selesai mendoakan anaknya. Aku ingin menangis, tapi air mataku penu...