Postingan

Mustika Juwita

Siapa yang kejam? tidak, bukan saya yang kejam. Dunia bahkan tidak mengenal kejam; ia hanya berjalan, tanpa bertanya siapa yang terluka. Sebagaimana saya yang telah memegang teguh cintaku padamu, dan menjadi bagian dari saya yang tak pernah benar-benar kau bawa pergi, saya pula yang harus menanggung kesetiaan pada kata-katamu: kau yang kala itu dengan sorot mata yang berkaca-kaca dan jemari yang gemetar, menuliskan, meminta, sekaligus menegakkannya sebagai keputusan:  agar baiknya gejolak batin yang tulus lagi dalam ini dikuburkan, dan digantikan saja dengan sesuatu yang lebih sunyi:  Serahkan saja pada roda takdir,  pada sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak pernah kuasai. Dan saya melakukannya, kau hantarkan saya pada altar peraduan nasib yang tak tentu arah itu. Kau paksa saya menepati luka itu seperti sumpah, kau pula yang menghadapkan kepala saya pada benturan yang tak mungkin saya hindari: antara kehendak saya untuk memeluk duniamu, dan kenyataan bahwa dunia tak pe...

Abadilah kata-kata

Diantara kegamangan yang dengan atau yang tanpa pengharapan Aku tak ingin mendukakan nasib sebintikpun Bila sempat kau intip barang sejenak; Jika tidak dalam sadarmu, munkin dalam guratan mimpimu Ia maksudku yang paling halus, yang wajahnya tanpa dihias dan tanpa tedeng aling-aling itu Sengaja ku antar ia menuju peraduannya Terbaring ia di altar arsy menunggu tiba keridhoanmu Jika pula sempat kau bertemu dengannya, izinkanlah ia mengetuk kedalaman batinmu sesekali saja Sejenak, Biar ia berbicara padamu dengan bahasa yang lapuk dipasung waktu Biar ia menerjang batas dalam keterbatasan kata-kata  Kau izinkan atau tidak ia menetap dan semerbak di pangkal jantungmu, Tentu itu bukan urusanku, itu semua ada pada kehendak dirimu Dan bahkan jika belumlah juga kau jenguk ia dalam ketersediaan umurku Biar ia simpan segala bahasa dalam telaga pesakitannya Biarkan ia pulas dalam keabadiannya Dan untukmu, sekalian kebahagiaanmu; semoga Tuhan memberkatimu dengan cinta yang ...

Merataplah

Apa yang membawa anak manusia pada penyangkalan?   menerka yang wujud dengan menaruh cinta pada yang bentuk. Apa yang membawa anak manusia pada keterombang-ambingan maksud?  menerka yang terang hanya telanjang dalam bentuk inderawi. Apa yang membawa anak manusia pada kelingseman ?  menaruh pandang hanya pada urusan kalah-menang, dan kalau perlu; harus menang! Bukannya pada pandangan yang jujur tentang kebenaran Kegamangan nasib anak manusia membentur altar takdir, meraba bentuk asli "manusia sejati" Apa yang "perlu" hinggap dalam kepintaran manusia agar tak sombong pada kebodohan dalam memahat dirinya menjadi manusia sejati? Maka merataplah ke kedalaman dirimu; sebab tak akan pernah kau jumpai selama hidupmu, wajah aturan dan bentuk spektrum sosial yang melarangan anak manisia untuk menangis, mengeluh bahkan merasa kalah, sekalipun pada dirinya sendiri. Sebab itu pula tak pernah jatuh larang terhadap anak manusia untuk berbicara dan berdialog; dengan angin, ranting...

Dengarkan!

Aku ingin berbicara padamu dengan hati telanjang Dengan kata-kata yang tanpa di hias Mataku hendak berbicara lebih lantang tanpa suara Kau diam, aku mulai berbicara Kau tatap mataku, kau membaca sorotnya Setiap kedip dan tarikan napas adalah jeda Aku diam, kau menyelami samudera pikirku lebih dalam Kau tahu, batin ini samudera hidup penuh badai Kau pun akan mengerti, gulungan ombak akan menghempaskan siapa saja yang mencoba melawannya bak burung penyelam, kau tenggelam dalam amuk gelombang Jangan coba buka mulutmu sesekali, kau bukan seekor ikan Ini bukan tentang jawaban, ini tentang mengerti Kala awan tersibak menari-narilah di kedalaman samudera Banyak-banyaklah belajar pada apa yang ada di balik kedalaman Keheningan selalu menjadi ruang bagi sesuatu yang lebih besar Keheningan adalah lumbung dari bahasa paling jujur Suara-suara itu nyata Suara-suara itu ada Bila tak mampu kau menahan jeritnya Pastilah pecah berkeping gendang telingamu Jemputklah tiap-tiap api yang menyala di dasarny...

Mulai-lah

Pancaroba bertiup membisik gamang Mengurai hidup nasib anak manusia  Selalu saja, isi kepala tak lebih besar dari mulutnya Menyalahkan apapun, tanpa pernah mengarahkan telunjuk kedalam dirinya sendiri Busa di mulut, kabut di pandang Menipu nuraninya sendiri Badai hidup, balada jiwa Menyibak ingatan, menyulam kedegilan, Menjahit luka, menjelma tanda peringatan, Katanya, Berhentilah menyalahkan angin, Belajarlah menari dalam badai

Aku Gelisah!

Jika gelapnya lorong-lorong jalan yang Engkau suguhkan adalah bahasa cinta-Mu yang paling sukar kami mengerti, maka dengan ridha-Mu, tuntunlah kami menuju cahaya di ujung lorong-lorong itu. Jika marabahaya dan ancaman-ancaman ketidakpastian hidup adalah tempayan-Mu yang berisi keberanian, tetapi sering kami salah pahami, maka luapkan, tumpahkan, dan bajirilah akal serta hati kami yang gersang akan kesadaran dan pengertian terhadap karunia-Mu. Jika hadirnya derita-derita dalam hidup kami adalah bahasa rindu-Mu yang masih tandus dari pengertian kami, hamba-Mu, maka tarik dan seretlah kami, bahkan ceburkan kami, ke telaga hidayah-Mu. Dan jika kehancuran yang karib dengan harapan-harapan kami adalah tinju-Mu terhadap keangkuhan dan kesombongan atas pengetahuan yang selalu kami bangga-banggakan, maka luluh-lantakkanlah dengan kebesaran nama-Mu, agar lapang hati dan pikiran kami menerima setiap roda takdir-Mu. Ya Tuhan kami, betapa hinanya kami yang tak mampu menyadari kebodohan diri sendiri...

Jangan Mati Kawan

Kawan, hidup di pusaran abad ke-21 ini seakan membawa kita pada ruang batin yang penuh dengan pertentangan; Di satu sisi, kita dihadapkan pada kesempatan-kesempatan yang mungkin tak pernah di bayangkan sebelumnya; di sisi lain, ada arus deras yang mencoba meruntuhkan nilai-nilai dasar yang kita genggam erat. Batu terjang itu, yang datang tanpa jengah, tidak hanya mengetuk, tetapi seperti hendak merubuhkan fondasi yang telah kita bangun nilai-nilai yang kita sepakati sebagai hal yang tak boleh dikorbankan, termasuk prinsip "tak menghalalkan segala cara, hanya untuk hidup!" Badai modernitas ini menghantam kita dari segala arah. Di setiap waktu, kita dipaksa berhadapan dengan percepatan yang seringkali tidak manusiawi, seolah ada perlombaan untuk siapa yang paling cepat beradaptasi, siapa yang paling cepat menghasilkan, siapa yang paling cepat mencapai “kesuksesan” menurut standar yang semakin kabur. Pada setiap perjumpaan dan pertukaran kabar; kita berulang kali menyaksikan b...