Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Harga Menjadi Manusia

Malam itu listrik padam di separuh kampung. Orang-orang keluar rumah. Ada yang duduk di teras. Ada yang membawa kursi ke pinggir jalan. Anak-anak berlarian sambil tertawa. Di kejauhan terdengar suara genset dari rumah seorang pengusaha beras. Saya duduk di gardu ronda bersama Pak Wiryo. Umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya hitam terbakar matahari. Ia bukan orang yang banyak bicara. Tetapi kalau sudah mulai bercerita, biasanya ada sesuatu yang tertinggal di kepala setelahnya. "Kampung jadi ramai kalau listrik mati," katanya. Saya tertawa. "Karena tidak ada yang bisa main telepon." "Bukan." "Lalu?" "Karena orang dipaksa melihat orang lain lagi." Ia menyalakan rokok. Api korek sempat menerangi wajahnya sesaat. "Dulu orang tidak perlu menunggu listrik mati untuk saling melihat." Saya tidak menjawab. Di ujung jalan seorang pemuda baru pulang. Motornya besar. Knalpotnya berisik. Beberapa anak kecil mem...