Harga Menjadi Manusia

Malam itu listrik padam di separuh kampung.

Orang-orang keluar rumah. Ada yang duduk di teras. Ada yang membawa kursi ke pinggir jalan. Anak-anak berlarian sambil tertawa. Di kejauhan terdengar suara genset dari rumah seorang pengusaha beras.

Saya duduk di gardu ronda bersama Pak Wiryo.

Umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya hitam terbakar matahari. Ia bukan orang yang banyak bicara. Tetapi kalau sudah mulai bercerita, biasanya ada sesuatu yang tertinggal di kepala setelahnya.

"Kampung jadi ramai kalau listrik mati," katanya.

Saya tertawa.

"Karena tidak ada yang bisa main telepon."

"Bukan."

"Lalu?"

"Karena orang dipaksa melihat orang lain lagi."

Ia menyalakan rokok.

Api korek sempat menerangi wajahnya sesaat.

"Dulu orang tidak perlu menunggu listrik mati untuk saling melihat."

Saya tidak menjawab.

Di ujung jalan seorang pemuda baru pulang. Motornya besar. Knalpotnya berisik. Beberapa anak kecil memperhatikannya lewat.

Pak Wiryo ikut melihat.

"Anak itu kerja di kota."

"Iya."

"Gajinya besar."

"Katanya begitu."

Ia mengangguk.

"Lima tahun lalu dia malu pulang kampung."

"Malu kenapa?"

"Karena belum berhasil."

Saya tertawa kecil.

"Memangnya sekarang sudah berhasil?"

"Itu yang ingin aku tanyakan."

Saya menoleh kepadanya.

Ia masih melihat ke arah jalan.

"Aneh ya," katanya lagi. "Manusia sekarang selalu merasa harus menjadi sesuatu sebelum berani pulang."

Malam semakin gelap.

Beberapa rumah mulai menyalakan lilin.

"Dulu orang pulang karena rindu," lanjutnya. "Sekarang banyak yang pulang membawa laporan."

"Laporan?"

"Iya. Laporan tentang dirinya."

Saya tersenyum.

Pak Wiryo melanjutkan.

"Kalau ditanya kabar, yang dijawab jabatan. Kalau ditanya hidup, yang diceritakan penghasilan. Kalau ditanya bahagia atau tidak, yang keluar cicilan rumah dan harga mobil."

"Itu kan tanda kemajuan."

"Barangkali."

"Tapi Bapak tidak setuju?"

Ia tertawa pelan.

"Aku tidak bilang tidak setuju."

"Lalu?"

"Aku cuma heran."

"Heran apa?"

"Semakin banyak orang berhasil, semakin sedikit yang terlihat tenang."

Saya terdiam.

Kalimat itu sederhana. Tetapi ada sesuatu yang mengganggu di dalamnya.

Sebab saya teringat banyak wajah.

Orang-orang yang terus bekerja meskipun tidak tahu lagi untuk apa.

Orang-orang yang selalu terburu-buru meskipun tidak sedang dikejar siapa-siapa.

Orang-orang yang setiap tahun memperoleh sesuatu yang dulu mereka impikan, tetapi tidak pernah tampak benar-benar sampai.

"Menurut Bapak, kenapa begitu?"

Pak Wiryo tidak langsung menjawab.

Ia mengisap rokoknya lama sekali.

Kemudian berkata pelan,

"Karena sejak kecil kita diajari menjadi orang."

"Maksudnya?"

"Diajari menjadi orang pintar. Orang berhasil. Orang penting. Orang kaya."

"Itu salah?"

"Tidak."

"Jadi?"

"Tapi tidak banyak yang mengajari bagaimana menjadi manusia."

Angin malam bergerak perlahan.

Di kejauhan terdengar suara anjing menggonggong.

Pak Wiryo membuang puntung rokoknya.

"Aku pernah jadi buruh pelabuhan," katanya tiba-tiba.

Saya baru tahu cerita itu.

"Dulu?"

"Iya. Waktu muda."

"Berat?"

"Berat."

"Lalu?"

"Di sana aku melihat banyak orang."

Ia berhenti sebentar.

"Ada yang miskin sekali. Ada yang kaya sekali. Ada mandor. Ada kuli. Ada pedagang. Ada pejabat."

Kemudian ia tersenyum.

"Setelah puluhan tahun, aku menemukan satu hal."

"Apa?"

"Orang miskin takut tidak punya apa-apa."

"Dan orang kaya?"

"Takut kehilangan apa yang dimilikinya."

"Itu biasa."

"Memang."

"Lalu yang aneh di mana?"

Pak Wiryo menatap saya.

"Yang aneh, dua-duanya sama-sama tidak tenang."

Lama kami tidak berbicara.

Lampu-lampu masih mati.

Kampung terasa lebih jujur dalam gelap.

Tidak ada papan nama jabatan.

Tidak ada gelar di depan nama.

Tidak ada ruang untuk pamer keberhasilan.

Hanya suara orang bercakap-cakap dari rumah ke rumah.

Hanya suara sendal di jalan.

Hanya manusia yang kembali menjadi manusia.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu saya merasa memahami apa yang dimaksud Pak Wiryo.

Barangkali sebagian besar hidup memang habis bukan untuk mencari kebahagiaan.

Melainkan untuk mengejar bayangan tentang seperti apa seharusnya kebahagiaan itu.

Dan sering kali, ketika bayangan itu semakin dekat, manusianya justru semakin jauh dari dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian

Aku Pulang! Bersabarlah

Abadilah kata-kata