Yang Harum Tanpa Nama

Hari baru terbit melepas laju cahaya di batas cakrawala.
Di bawah hampar langit fajar, gumpal awan tak memecah cahaya.
Sinarnya mengkanvas kuning keemasan memancar ke segala arah.
Lembut cahayanya meresap, menembus jantung taman,
menyibak arus awan, menembus celah ranting dan dedaunan.
Langit yang jingga, anggun dan menawan pada balutan warnanya

Wahai kelopak mawar yang jelita, tengadahlah.
Hadapkan wajahmu kepadaku jika kau sungguh berani mencinta.
Lihatlah kumbang-kumbang yang terbang menuju cahaya.
Mereka tidak mencari bunga, tidak mencari taman,
ia mencari Sang Pemilik Keharuman.

Wahai mawar yang jelita,
berapa lama lagi kau hendak menghitung sayap yang melintas?
Berapa lama lagi kau hendak menakar cinta
dari siapa yang datang dan siapa yang berpaling?

Kumbang tak pernah menolak mawar.
Cahaya pun tak pernah merebutnya.
Di taman semesta, setiap makhluk
sedang ditarik oleh rahasianya masing-masing.

Wahai mawar yang salah sangka,

mekarlah.

Jangan karena ada yang datang.
Jangan pula karena ada yang pergi.

Maka mekarlah,

sebagaimana fajar merekah,
tanpa menyimpan tanya siapa yang menyambutnya.

Maka menarilah,
sebagaimana cahaya mengukir keabadian pada bening embun,
sementara fajar diam-diam menghitung usia keduanya.

O, jiwa-jiwa yang mengembara dari musim ke musim,
yang terbakar dalam semburat arah,

berhentilah mengejar langkah bayanganmu sendiri.

Bayangan tidak pernah sampai ke mana-mana.
Ia lahir dari punggungmu yang membelakangi cahaya.

Berbaliklah.

Sebab yang kau cari dalam wajah-wajah yang singgah,
dalam sayap-sayap yang melintas,
dalam segala yang terbit-tenggelam,

sesungguhnya telah lama menunggumu
di dalam taman hatimu sendiri.

Dan ketika kau akhirnya mengerti,
mawar tetap mawar,
kumbang tetap kumbang,
dan cahaya tetap cahaya.

Namun kesalahpahamanmu tentang cinta
gugur perlahan seperti kelopak terakhir pada penghujung musim.

Lalu yang tertinggal hanyalah harum,
tanpa bunga,
tanpa taman,
tanpa nama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Pulang! Bersabarlah

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian

Abadilah kata-kata