Kerabatku
Kerabatku orang-orang hina dan lapar
Merayap-meratap membangun jalan
Pada Lorong batin yang sama beredar melingkar
Dalam Insyaf yang menjalar ke pangkal sadar
Tidak boleh ada seorang pun
yang harus menanggung pilihan:
antara makan dan mempertahankan harga dirinya,
tidak boleh ada manusia yang harus merengek-membungkuk-merendah
agar dapat bertahan hidup.
Aku mencintai negeri ini,
Yang tumbuh dari Kehinaan dan kelaparan pada akar kehidupan bangsanya sendiri.
Di bawah kaki langit negeri
Bunga-bunga bangsa menari-menari
Wanginya menembus cakrawala
Menular menjadi bara
Merapal parau ia bertanya:
Sejak kapan penderitaan dianggap suatu persoalan yang wajar?
Sejak kapan rasa lapar harus hikmat dilumat syukur?
Sejak kapan ketakutan menjadi harga yang harus dibayar demi ketertiban?
Sejak kapan pengkerdilan dianggap sebagai pendidikan?
Sejak kapan penghisapan menjadi bagian yang sah dari pekerjaan?
Dan sejak kapan ketidakadilan pada suatu negeri menjadi sesuatu yang tidak dapat di tawar
hanya karena terlalu karib dengan nasib bangsanya?
Aku mencintai negeri ini,
Meski kehidupan yang dikandungnya harus sulit bagi sebagian manusia
dan mudah bagi sebagian lainnya,
dan ada kehidupan yang dianggap lebih berharga daripada kehidupan lainnya.
Aku mencintai negeri ini,
Aku bersaksi
Bahwa tidak boleh ada manusia yang sejak kelahirannya ditakdirkan untuk di hinakan,
sementara manusia lain merasa berhak menentukan nasib hidup orang lain.
Dan aku masih punya harapan,
suatu hari nanti
Bunga-bunga bangsa ini tak henti bernyanyi
Hingga semua tahu
mengapa orang “miskin” membutuhkan keadilan.
Komentar