81 Tahun adalah Angka

Cahaya bintang-gemintang berpendaran di atap langit bangsa

bohlam menyala remang 

menghias rumah-rumah diantara lembah dan tebing 

Malam yang menggigil

jatuh tersungkur di muka tungku-tungku

sesak, pengap mencekik tenggorokan

banjir pada kedua bola mata orang perkebunan menjerat kehangatan

sementara hidup disini menjeda pertanyaan

apa arti 81 tahun kemerdekaan?


Diantara kepung beratus-ratus hektar lahan perkebunan

diselang-seling nasib tak berkepastian

poster-poster pincang mewarta kehidupan

melumat nurani, menyayat luka

 

Malam makin larut

panas tungku  lenyap-surut

kudengar langkah geletar berirama

di antara desah angin pancaroba

seorang demi seorang jatuh diatas terpal kusut

sebagian tersungkur patah-patah bertindih diantara perabotan rumahnya

kulihat kemarau pada telapak-telapak kakinya

tandus mengakar mencatat langkah mereka


Langit merintik renai-renai

suasana mengkidung sunyi

lembab embun berpadu napas orang-orang perkebunan

Pukul dua dini hari

asap mengepul menembus dinding kayu bangunan

seorang perempuan kembang-kempis setengah sekarat menyajikan jatah makan

terkutuklah penjajahan diatas tanah yang pesta pora kemerdekaan


Pasok kabar penggusuran bergerak

dari balik bebukitan 

merayapi jalan-jalan berkelok-menanjak

tiba didepan pelataran

mengintai pada setiap titik yang dipancang kebijakan

di bawah kaki dewi keadilan

hidup orang-orang perkebunan adalah pertaruhan


Pagi yang luka

dan wajah sinder yang menyimpan bara di balik kelopak mata

adalah pagi yang biasa

bagi mereka yang merindu upah kerugian barang dan tenaga

bagi mereka yang tak pernah mengerti bahwa yang selama ini dikerjakannya

bukanlah untuk mereka

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atas Nama Cinta, Kita Saudara Sedarah

Aku Pulang! Bersabarlah

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian