Kiamat Diam-Diam

Malam mengunyah lampu jalan.
Kota sesak asap dan kesepian.
Kulihat langit tergunting menjadi potongan-potongan.
Bintang-bintang tercecer di jalanan.

Jam dinding batuk.
Pukul dua lewat sedikit kehilangan.

Di luar, hujan menggantung tubuhnya
di kabel-kabel listrik.

Mimpiku bocor sampai ke pelataran.

Jam dinding batuk lagi.

Waktu retak memantulkan wajahku jadi tiga bagian:
yang satu ingin pulang,
yang satu ingin hilang,
yang satunya lagi ditelan cinta setengah jalan.

Ia tidak marah,
ia tak mau kalah,
itu yang paling mengerikan.

Layar kecil bercahaya.
Nyala, berbicara tanpa suara.

Iklan sabun lewat.
Iklan surga lewat.
Iklan pemerintah pun lewat.

Muak.

Seekor tikus melintas di bawah meja,
membawa potongan roti dan sedikit harga diri manusia.

Orang-orang berbicara tentang cinta
dengan mulut penuh beling.
Mereka memandangi satu sama lain
sambil diam-diam menghitung jalan keluar.

Hujan terus jatuh,
seperti mulut ibuku yang tak selesai mendoakan anaknya.

Aku ingin menangis,
tapi air mataku penuh kaca.

Dan hujan
terus jatuh tanpa memilih atap.

Layar kecil bercahaya tetap menyala.
Nyala.
Seperti mata Tuhan yang dipaksa lembur
mengawasi anak manusia:

yang gamang,
yang tak tentu arah,
yang luka,
yang duka,
yang kalah.

Aku mendengar jam dinding batuk lagi.
Jarumnya copot sebelah.
Waktu mulai berjalan pincang.

Lalu langit tetap saja sibuk jadi langit.

Dan aku,
aku pulang ke tubuhku sendiri,
menemukan banyak furnitur telah pindah tempat.

Paru-paruku penuh arsip.
Di jantungku ada antrean panjang
orang-orang mati
yang belum sempat diberitahu bahwa dunia telah kiamat diam-diam.

Tangan gemetar.

Di luar, hujan belum selesai jadi hujan.
Ia jatuh ke masjid.

Ia jatuh ke rumah orang tak punya.
Ke rumah orang kaya.
Ke rumah tuan tanah.
Ke kantor pemerintah.
Ke kantor polisi.
Ke kantor politisi.
Ke ranjang-ranjang rumah sakit.
Ke perut kosong anak manusia asuhan negara.

Dan langit,
sialan langit itu,
tetap biru di brosur-brosur wisata.

Jam dinding batuk keras sekali.

Kali ini jarumnya patah seluruhnya.
Waktu roboh di lantai,
seperti buruh tua yang mati lembur
tanpa sempat pulang.

Lampu berkedip.
Listrik megap-megap.
Layar kecil akhirnya padam.

Sunyi naik dari bawah lantai.
Duduk di sampingku.

Berbisik ia pada telinga batinku:

“Barangkali sejak awal
yang paling sepi bukan malam,
tetapi manusia.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Suatu Kota, Aku Terbakar Sendirian

Aku Pulang! Bersabarlah

Abadilah kata-kata