Mustika Juwita

Siapa yang kejam?

tidak, bukan saya yang kejam.

Dunia bahkan tidak mengenal kejam;

ia hanya berjalan, tanpa bertanya siapa yang terluka.


Sebagaimana saya yang telah memegang teguh cintaku padamu,

dan menjadi bagian dari saya yang tak pernah benar-benar kau bawa pergi,

saya pula yang harus menanggung kesetiaan pada kata-katamu:

kau yang kala itu dengan sorot mata yang berkaca-kaca dan jemari yang gemetar,

menuliskan, meminta, sekaligus menegakkannya sebagai keputusan: 

agar baiknya gejolak batin yang tulus lagi dalam ini dikuburkan,

dan digantikan saja dengan sesuatu yang lebih sunyi: 

Serahkan saja pada roda takdir, 

pada sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak pernah kuasai.


Dan saya melakukannya,

kau hantarkan saya pada altar peraduan nasib yang tak tentu arah itu.

Kau paksa saya menepati luka itu seperti sumpah,

kau pula yang menghadapkan kepala saya

pada benturan yang tak mungkin saya hindari:

antara kehendak saya untuk memeluk duniamu,

dan kenyataan bahwa dunia tak pernah tunduk pada kehendak siapa pun.


Di titik itu,

banyak orang memilih runtuh.

Mereka menyalahkan takdir,

menyalahkan gejolak batinnya,

atau menyalahkan mereka yang pergi.


Saya tidak.

Saya memilih sesuatu yang lebih sunyi,

lebih keras,

lebih jujur:

menerima tanpa tunduk,

merelakan tanpa mau kehilangan diri saya sendiri.


Maka,

dengan gejolak batin yang tidak ada lagi tuntutan atasnya,

saya ridha pada setiap penyikapan dan penyerahan nasib itu sepenuhnya.

Bukan karena gejolak yang tulus lagi dalam itu telah tanggal, lapuk dimakan waktu,

dan luruh oleh jarak,

tetapi keadaan memaksa saya mengerti:

bahwa tidak semua hasrat ditakdirkan untuk dapat diridhai,

dan mendapat kehormatan untuk sampai.


Hari ini,

Kau cukup bagi saya untuk menghadirkan pelajaran hidup yang paling sunyi:  

tentang kerelaan,

tentang keikhlasan,

dan tentang keridhaan

yang tidak lahir dari kemenangan,

tetapi keberanian untuk tidak membenci takdir.


Sebab diam-diam,

saya mengerti:

merelakan bukan berarti kehilangan seluruhnya,

melainkan menyimpan sesuatu

tanpa lagi menuntutnya kembali.


Dan suatu hari nanti,

jika masih cukup waktu napasku di atas dunia yang masih sama denganmu,

saya tak pernah mencoba menghalangi apa pun yang tiba,

begitupun tidak akan menahan apa pun yang pergi.


Bahkan jika suatu saat

kau kembali menghidupkan gejolak batin itu,

yang darimu dahulu meminta untuk dikuburkan,

dan memohon keridhaan

untuk tinggal kembali di dalamnya,

saya tidak akan menutup pintu.


Bukan karena saya menunggu,

tetapi karena saya telah belajar:

bahwa gejolak yang tulus lagi dalam itu tidak pernah benar-benar mati,

ia hanya tiba pada bagaimana cara membangun ulang dirinya,

menemukan kehormatan untuknya berlabuh.


Akhirnya semua menjadi terang:

masing-masing dari kita sampai pada satu pengertian yang dalam:

Bahwa gejolak batin yang paling kuat,

bukan yang selalu sampai pada labuhannya,

tetapi yang masih setia merawatnya meskipun harus melepas-merelakan

tanpa kehilangan makna,

tanpa kehilangan diri sendiri.


Komentar