Mustika Juwita
Siapa yang kejam? tidak, bukan saya yang kejam. Dunia bahkan tidak mengenal kejam; ia hanya berjalan, tanpa bertanya siapa yang terluka. Sebagaimana saya yang telah memegang teguh cintaku padamu, dan menjadi bagian dari saya yang tak pernah benar-benar kau bawa pergi, saya pula yang harus menanggung kesetiaan pada kata-katamu: kau yang kala itu dengan sorot mata yang berkaca-kaca dan jemari yang gemetar, menuliskan, meminta, sekaligus menegakkannya sebagai keputusan: agar baiknya gejolak batin yang tulus lagi dalam ini dikuburkan, dan digantikan saja dengan sesuatu yang lebih sunyi: Serahkan saja pada roda takdir, pada sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak pernah kuasai. Dan saya melakukannya, kau hantarkan saya pada altar peraduan nasib yang tak tentu arah itu. Kau paksa saya menepati luka itu seperti sumpah, kau pula yang menghadapkan kepala saya pada benturan yang tak mungkin saya hindari: antara kehendak saya untuk memeluk duniamu, dan kenyataan bahwa dunia tak pe...